(Makalah ini telah dimuat dalam Buku Dies Emas 50 Tahun
UNM Makassar, 1 Agustus 2011)
PENGEMBANGAN
PRODI ILMU KEPELATIHAN
DALAM
MENUNJANG OLAHRAGA PRESTASI*
Oleh:
Prof.
Dr. dr. M. Nadjib Bustan, MPH
Fakultas Ilmu Keolahragaan
UNM Makassar
A. Latar Belakang
Pencapaian prestasi olahraga yang
dintadai dengan penyematan medali dan pengibaran bendera Merah Putih merupakan
cita-cita pembangunan olahraga yang
dapat meningkatkan martabat bangsa Indonesia. Untuk mencapai prestasi olahraga
diperlukan upaya berlatih dan berlatih! Pelatihan yang tepat dan efektif perlu
ditunjang dengan pendekatan ilmiah berbasis ilmu kepelatihan.
Sementara itu, Ilmu Kepelatihan (Exercise Science) masih belum dikenal
dan belum dikembangkan sebagai suatu ilmu tersendiri yang selanjutnya bisa
dikembangkan sebagai suatu program studi (prodi) sarjana atau pasca sarjana.
Sampai dewasa ini tampak bahwa seluruh fakultas keolahragaan pemerintah maupun
swasta belum ada satupun yang khusus mempunyai program studi ilmu kepelatihan.
Program studi yang terkait ilmu kepelatihan yang ada adalah program studi, yang
membentuk sarjana pendidikan/guru untuk bidang kepelatihan. Prodi itu antara
lain bernama Pendidikan Kepelatihan Olahraga.
Ilmu Kepelatihan ini merupakan ilmu murni (science) atau ilmu eksakta yang berbeda dengan ilmu-ilmu
pendidikan jasmani dan olahraga yang merupakan bagian dari rumpun ilmu
pendidikan. Ilmu Kepelatihan berbasis pada ilmu kedokteran, kesehatan dan ilmu
olahraga (sport science) itu sendiri.
American College of Sports Medicine (ACSM)
menjabarkan bahwa Exercise Science is the
study of movement and the associated functional responses and adaptations.
Jabaran ACSM ini memperlihatkan bahwa Exercise
Science berdasar pada ilmu gerak (biomekanik/kinesiologi) dan
ilmu fungsi (fisiologi). Ilmu dan pengetahuan tentang Ilmu Kepelatihan sangatlah penting untuk pengembangan ilmu
olahraga pada umumnya dan pengembangan prestasi olahraga pada khususnya. Dengan
berbasis Ilmu Kepelatihan, atlet mendapat latihan yang dapat meningkatan kemampuan
fisik dan ketrampilan berlaga sehingga
dapat menunjang pencapaian prestasi juara.
Dewasa
ini kondisi prestasi olahraga Indonesia di kancah nasional, regional dan
internasional masih belum memuaskan.
Dalam berbagai arena (event) pemecahan
record masih sangat terbatas. Di kancah ASEAN Games, SEA Games dan Olympic
Games, pencapaian medali masih rendah dan peringkat yang belum masuk hitungan.
Walaupun demikian, semangat tinggi dan daya juang tetap digelorakan oleh
pemerintah. Indonesia ditargetkan menjadi juara umum pada Asian Games 2014, berada di peringkat 10 pada SEA Games, dan di Olimpiade 2012
pada peringkat ke
35. Untuk itu, diperlukan suatu program pembinaan dan pelatihan yang sistematis,
terencana, berkesinambungan, dan
modern. Selain itu, keberhasilan
kontingen Indonesia meraih
prestasi di ajang SEA Games
merupakan momentum kebangkitan olahraga nasional untuk menjangkau papan atas di tingkat internasional.
Berdasarkan
kehendak ini, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengarahkan program pengembangan
prestasi olahraga yang bernana Program Indonesia
Emas, atau disingkat PRIMA. Program pengembangan prestasi olahraga ini merupakan satu program nasional
yang
dirancang
dan dilaksanakan pemerintah untuk mendongkrak prestasi olahraga nasional, hingga akhirnya mampu memperbaiki peringkat Indonesia dalam kejuaraan multi-events, baik di tingkat regional maupun internasional.
Kehadiran program IK dengan luaran sarjana berbasis sport science ini diharapkan dapat memberi konstribus terhadap
tercipta tenaga ilmiah dan profesional kepelatihan dalam membentuk atlet
berprestasi yang meningktkan peringkat Indonesia ke papan atas internasional.
B. Analisis Kebutuhan
Ketika upaya pembangunan olahraga
prestasi digalakkan dengan menggunakan pendekatan keilmuan (sport science), ilmu kepelatihan menjadi
ilmu utama yang perlu dikedepankan. Pembangunan olahraga prestasi memerlukan sekian banyak tenaga
pelatih yang ilmiah dan profesional. Jumlahnya tentu akan berkorelasi dengan
banyaknya kebutuhan pelatih untuk setiap cabang olahraga prestasi, dan selain untuk olahraga, kebugaran (fitness)
dan aktifitas fisik lainnya.
Hingga kini para pelatih fisik maupun pelatih cabang
olahraga umumnya berasal dari atlet senior yang berprestasi. Mereka tentu
mempunyai ketrampilan bertanding dan pengalaman yang cukup, namun masih
mempunyai keterbatasan dalam melakukan analisis yang dalam selama melakukan
tugas kepelatihan terhadap atletnya. Beberapa
pelatih asing terpaksa didatangkan untuk mengisi kekosongan atas tenaga pelatih
profesional pada cabang olahraga prestasi utama (misalnya sepakbola). Selain itu,
tenaga pelatih yang profesional diperlukan mengingat diperlukannya penerapan ilmu
dan tehnologi (IPTEK) dalam pelatihan. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan
akan tenaga pelatih profesional, perlu dikembangkan program studi ilmu
kepelatihan sebagai sumber utama pengadaan tenaga pelatih tersebut.
Kebutuhan
tenaga/sarjana pelatih melalui program studi Ilmu Kepelatihan bukanlah suatu
yang mustahil. Potensi SDM/dosen untuk itu dapat diperoleh dari berbagai
jurusan/prodi yang sudah berjalan dan berkembang dewasa ini. Untuk pengembangan
Prodi Ilmu Kepelatihan terdapat potensi SDM yang tersebar di
18 fakultas/jurusan/program
studi
keolahragaan di perguruan
tinggi
negeri
dan 30
jurusan/program studi keolahragaan di perguruan
tinggi
swasta.
Keadaan ini menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 48 lembaga pendidikan dimana
Prodi Keolahragaan dapat disemaikan dan ditumbuh-kembangkan.
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Makassar sendiri mempunyai potensi SDM/dosen yang cukup memadai dalam jumlah dan kualitasnya yang tersebar di 4 (empat) jurusan/prodi (Pendidikan jasamani,
Kesehatan dan Rekreasi, Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Pendidikan Olahraga,
dan Ilmu Olahraga).
Kehadiran
sarjana ilmu kepelatihan merupakan idaman Program Indonesia
Emas. PRIMA ditantang
untuk menjawab dan membuktikan programnya secara nyata.PRIMA memerlukan perubahan kualitas pelatihan dengan cara
mengadopsi High Performance Programme,
yaitu suatu program pembinaan atlet
elit yang melibatkan seluruh
unsur-unsur pelatihan secara terpadu,
serta melibatkan pihak-pihak yang dipandang mampu
memberikan dukungan yang
dibutuhkan. Prinsip-prinsip pokok dari
program ini antara lain terletak pada aplikasi sport sciences, keterpaduan antara pelatihan fisik, teknik, taktik dan penyiapan mental juara, serta diberlakukannya sistem
pemantauan performa dan analisis
penguasaan skills atlet secara
terprogram.
Sarjana
produksi program sarjana ilmu kepelatihan inilah yang diharapkan memfokuskan
diri mengembang program atau target pembangunan olahraga prestasi jangka pendek
melaui PRIMA ini.
C. Kompetensi Luaran
Berdasarkan kurikulum dan materi yang telah diberikan
dalam proses belajar, seorang sarjana ilmu kepelatihan akan mempunyai kompotensi
dalam semua aspek kepelatihan yang berbasis ilmu olahraga. Kompetensi sarjana
ilmu kepelatihan dikembangkan berdasarkan 3 (tiga) bidang ilmu utama, yakni
kedokteran, kesehatan dan ilmu olahraga. Kedalaman ilmu ini difokuskan pada penguasaan 2 (dua)
ilmu utama, sesuai dengan definisi Ilmu Kepelatihan, yakni fisiologi olahraga
dan biomekanik.
Dengan kompetensi yang dimiliki, para tenaga terdidik (sarjana dan
pascasarjana) ilmu kepelatihan ini dapat bertindak sebagai pelatih dalam
berbagai bentuk kepelatihan, seperti exercise physiologist, pelatih
kebugaran, pelatih fisik, instruktur senam aerobik, pelatih atletik, rehabilitasi
kardiopulmonal, pelatih personal, fisioterapi, dan conditioning coach.
Secara tersendiri berbagai kompetensi khusus dapat
dikembangkan, misalnya kompetensi yang berhubungan dengan kesehatan dan
kebugaran. Untuk itu diperlukan kompetensi dalam hal coronary artery disease risk factor screening, uji kebugaran (exercise testing), konseling untuk
meningingktkan aktifitas olahraga, konseling penuruan risiko penyakit
koroner, manajemen platihan kebugaran,
program rehabilitasi perbaikan fungsi koroner, dan bimbingan ke arah gaya hidup sehat.
Untuk olahraga prestasi, fokus kompotensi diarahkan
pada Motor Development. Kompotensi yang dikembangkan disini meliputi physical
therapy, occupational therapy, speech pathology, physician assistant, health
promotion, dan konseling
motivasi latihan.
Dengan demikian didapatkan kompotesi yang
diharapkan yang meliputi: (1) kompetensi khusus dalama pengembangan, analisis
dan diagnosis perkembangan motorik dan motor
disabilities pada anak, remaja dan dewasa/lansia, ( 2) kemampuan dalam
peresepan program aktifitas fisik dan motorik yang menghasilkan penyembuhan (recovery)
fungsi motorik individu/atlet.
Selanjutnya, secara akademik dilakukan pendalaman
dengan pendidikan lanjutan pada bidang-bidang advanced training terkait
dengan kedokteran, biomedik, fisioterapi dan kesehatan masyarakat. Semua jenis kompetensi ini merupakan kebutuhan
inti dalam proses pelatihan atlet menuju prestasi olahraga.
Luaran prodi dengan kompotensi kepelatihan dapat
berkiprah pada berbagai lini olahraga
yang memerlukan tenaga pelatih dan ilmu kepelatihan. Selain jajaran departemen
atau dinas yang berhubungan dengan olahraga, sarjana ilmu kepelatihan akan dapat
bertugas di instansi/dinas kesehatan, upaya pencegahan dan rehabilitasi
gangguan fisik, lembaga pendidikan dan penelitian, baik di pihak pemerinath
maupun swasta/lembaga swadaya masyarakat.
D. Keberadaan Prodi
Ilmu Kepelatihan
Keberadaan Prodi Ilmu Kepelatihan di Indonesia belum
dapat ditemukan di seluruh sekolah/ fakultas ilmu keolahragaan. Sementara itu,
di berbagai negara lainnya program studi di bidang ilmu kepelatihan dalam
bentuk jurusan atau prodi ilmu kepelatihan telah berada dan berkembang dalam
berbagai bentuk, status dan nama. Misalnya, di Griffith University, Brisbane,
Australia, ilmu kepelatihan itu dikembangan dalam suatu School of Physiotherapy and Exercise Science.
Sementara itu,
di University of South Carolina, Amerika Serikat namanya jelas sebagai
Department of Exercie Science. Program studi ini mengembangkan 3 (tiga) jenis
tingkat program sarjana: BS (Bachelor of Science), MS (Master of Science), dn
Doctoral (PhD). Disamping itu, di bidang Sport Science, USC mempunyai juga program
untuk Master of Public Health in Physical Activity and
Public Health (MPH-PHPA).
Program Bachelor
of Science in Exercise Science (setara
dengan Sarjana 1) memfokuskan diri pada 4 (empat) area khusus: Health Fitness,
Motor Development, Public Health, and Scientific Foundations. Alumninya
dipersiapkan untuk bekerja di bidang kesehatan dan olahraga yang memerlukan
tenaga profesional dalam kepelatihan.
E. Inti Kurikulum
Menurut definisi Ilmu Kepelatihan, dasar
pengembangan ilmu kepelatihan yang akan menjadi dasar pembentukan kurikulum
adalah fisiologi dan biomekanik. Sesuai
dengan tujuannya, materi k
urikulum selayaknya mengacuh kepada aspek-aspek kepelatihan
yang menyangkut peningkatan kemampuan motorik dan ketrampilan (skill) bermain dan bertanding dalam berbagai cabang olahraga.
Sebagai dasar pembentukan kurikulum dipergunkan 3
(tiga) ilmu utama: kedokteran, kesehatan
dan ilmu keolahragaan. Dalam bidang kedokteran dikembangkanlah mata kuliah ilmu
kedokteran seperti anatomi, fisiologi, patologi,
dan biomedik. Bidang kesehatan membentuk mata kuliah sosiologi, manajemen, epidemiologi,
fisika, biokimia dan psikologi. Khusus di ruang lingkup ilmu keolahragaan,
penekanan diarahkan pada aspek latihan dan kepelatihan dalam mengembangkan
sistem muskuloskeletal dan motorik dengan cabang olahraga masing-masing.
Disampingi itu perlu dilengkapi dengan pendekatan tehnologi keolahragaan dalam
matakuliah seperti tehnologi sarana dan prasana, tehnologi peralatan olahraga,
tehnologi diagnostik dan komputer.
Kelengkapan ilmu tehnologi ini diarahkan untuk mengembangkan prototipe, rancang bangun, dan
modifikasi tehnologi dalam rangka meningkatkan mutu penyelenggaraan
keolahragaan dan dukungan kepelatihan atlet. Dukungan tehnologi diharapkan
dapat menunjang terciptanya atlet berprestasi, dalam seluruh tahapan prosesnya,
mulai dari penyelusuran bakat, seleksi dan rekruitmen atlet pratama hingga ke
pusat pelatihan nasional.
Kesemua mata pelajaran ini akan bersinergi dalam
membentuk kopetensi sarjana ilmu kepelatihan yang dapat menunjang proses
terciptanya atlet berkualitas dan berprestasi.
F. Rekomendasi
Sebagai pelengkap, setelah meyakini betapa penting
dan perlunya pelatih profesional yang hanya bisa diproduksi dari suatu prodi
ilmu kepelatihan, segera dapat dibentuk prodi IK di sebuah FIK terpilih atau 3 (tiga)
FIK utama berbasis regional (bagian barat, tengah dan timur Indonesia), dengan
tidak membatasi kesempatan di sekolah/fakultas manapun yang berkemauan.
DAFTAR PUSTAKA
-ACSM.
2011. Careers in Sport and Exercise Science. www.acsm.org
-AAHPERED.
Allied Health. 2011. Exercise Science.
Health Care Careers Directory 2009-2010.nwww.aahperd.org.
-Jenkins,
S.P.R. 2005. Sport Science Handbook. The Essential Guide to Kinesiology, Sport
and Exercise Science. Multi-Science Publishing Co, UK.
- Menteri Negara
Pemuda dan Olahraga. Sambutan Hari Olahraga Nasional Ke-27 2010.
- Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor
22 Tahun 2010 Tentang Program
Indonesia Emas
- Republik
Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005
tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
-
University of South Carolina. School of Public health. www. sph.sc.edu.
(diterima 24 Juni 2014, melalui email, diunggah atas
permintaan penulis)